Pages

Al Quran braile masih kurang

Thinkstock

Jumlah produksi Al Quran braille oleh Balai Penerbitan Braile Indonesia (BPBI) Abiyoso, Cimahi, Jawa Barat setiap tahunnya masih belum sebanding dengan banyaknya permintaan.
"Dalam setahun BPBI Abiyoso hanya mampu memproduksi 75 set Al Quran, sedangkan jumlah tunanetra di Indonesia jumlahnya mencapai 1,5 juta orang," jelas Kepala Seksi Kerja sama Kelembagaan BPBI Abiyoso, Yusuf Pardiano.

"Sebetulnya kami mampu produksi dalam jumlah banyak. Tapi masalahnya anggaran yang ada sekarang ini sangat tidak memadai. Padahal para tunanetra membutuhkannya. Sebab kalau membeli sendiri harganya pasti mahal," imbuhnya.

Ia melanjutkan setiap tahunnya BPBI mendapat alokasi dana dari daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) tahunan untuk mencetak, menerbitkan serta menyebarkan Al Quran braille, tercatat lebih dari tiga ribu set Al Quran braille telah disebar sejak tiga dasawarsa terakhir. Hanya saja jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan tunanetra Muslim yang ada di Indonesia.

"Tidak semua penyandang tunanetra berada di dalam satu panti atau yayasan menyebabkan penyebaran Al Quran braille tidak merata. Selain itu mahalnya satu set Al Quran braille yaitu sekitar Rp 1,7 juta, juga menjadi kendala bagi tunanetra Muslim," jelasnya.

Pembuatan (penulisan dan pencetakan) Al Quran braille membutuhkan waktu yang lama minimal satu sampai dua tahun. Saat ini tahapan penerbitan Al Quran braille diharapkan pertengahan bulan Ramadan ini sudah bisa disebar dan dipaketkan ke daerah di luar Jawa Barat.

"Dalam satu set Al Quran terdiri dari 1.540 lembar dengan kertas yang ukurannya 160 gram. Mengenai isinya kami telah mempunyai standarisasinya agar bisa menghindari kesalahan dalam penulisan. Al Quran braille yang diproduksi telah mendapat pemeriksaan dari Depag mengenai standarisasinya sesuai mushaf standar internasional dari Unesco," urainya.

Kendala yang lain selama ini juga persoalan teknis penerimaan saja. Karena seringkali mereka yang telah menerima Al Quran braille tidak disertai dengan bukti penerimaan. Sehingga tidak jarang menimbulkan persoalan di kemudian hari.

"Karena Al Quran ini disumbangkan pada tunanetra. Proses pembuatan yang dilakukan oleh BPBI bisa secara manual dan komputerisasi. Tentu saja pembuatan secara manual bisa memakan waktu lebih lama yakni dua tahun. Sedangkan komputer hanya satu tahun," ujarnya.

Salah seorang pemeriksa Al Quran braille, Heppy Septiawan mengatakan proses pemeriksaan terhadap Al Quran braille butuh ketelitian. Bagi mereka yang melihat di hadapkan pada persoalan yang lebih pelik karena harus menguasai kaidah bahasa Arab dan penulisan bahasa Arab dalam bentuk braille.

"Saya membacakan Al Quran braille dan satu orang lagi membaca Al Quran dalam tulisan bahasa Arabnya. Kalau ada kesalahan diberi tanda dan harus diperbaiki. Proses pemeriksaan ini dilakukan sebanyak tiga kali," ujar Heppy.


sumber
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...